Prof Muhammad Firdaus

mencari dan memberi yang terbaik

 

Manajemen Ketahanan Pangan

 

Manajemen Ketahanan Pangan

Muhammad Firdaus

Guru Besar FEM IPB dan Peneliti PKHT IPB

 

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dan dimasa itu mereka memeras anggur”

(QS Yusuf:49)

 

Makna Kisah Yusuf as untuk Pembangunan Pertanian

 

Kedatangan bulan agung Ramadhan di Indonesia seringkali disertai kekhawatiran melonjaknya harga pangan.  Fenomena ini bukan saja baru terjadi. Upaya antisipasi sudah mulai dilakukan Pemerintah. Untuk daging, 80 ribu rupiah per kg merupakan ambang batas harga di pasar. Dengan “ancaman” seperti itu, diharapkan peluang pencari rente untuk memainkan harga bisa diminimumkan. Namun bila pengelolaan pasokan tidak tepat, bisa berakibat sebaliknya seperti halnya yang terjadi dengan beras pada tahun lalu. Saat diumumkan tidak akan ada lagi impor, harga beras malah melonjak karena memberi kesempatan kepada pelaku pasar untuk memainkan pasokan.

 

Untuk komoditas seperti daging yang memang tingkat konsumsi nasional masih jauh di atas kemampuan produksi dalam negeri, mendatangkan dari luar negeri merupakan pilihan (jangka pendek).  Namun, banyak pangan pokok lain, seperti beras, cabe, bawang merah, ayam dan ikan, yang seyogyanya dari dalam negeri mampu dipenuhi dengan baik, namun karena manajemen produksi dan penyimpanan yang tidak pas, menyebabkan harga masih sangat bervariasi bak antar waktu maupun antar  daerah; dan sering meningkat tajam saat tertentu seperti Ramadhan.

 

Bagaiman mengelola produk pertanian yang bersifat musiman sudah dicontohkan dalam Al-Quran, dengan mengambil kisah di salah satu negeri yang paling tua peradabannya, Mesir. Lebih dari 4.000 tahun yang lalu dikisahkan Yusuf a.s. memimpin pengelolaan cadangan pangan negara untuk menghadapi saat paceklik.

 

Pada ayat 47-49 disebutkan proses yang terjadi merupakan siklus (business cycle). Kita sering terhenti pada ayat ke-48, yaitu datangnya saat paceklik setelah di ayat 47 digambarkan musim panen raya. Pada ayat ke-49 disebutkan akan ada masa keemasan kembali. Dalam ekonomi makro, salah satu mazhab yang berkembang kurun waktu terakhir adalah real business cycle.  Perekonomian suatu negara pada saat-sat tertentu mengalami gejolak (krisis), yang bisa kembali berulang.

 

Untuk bidang pertanian, beberapa riset menjelasakan dalam mengimplementasikan sistem pertanian yang ramah lingkungan (organik, LISA dll.), diperlukan proses rotasi komoditas yang diusahakan. Proses rotasi ini dari pengalaman penelitian di Amerika Serikat dan Inggris direkomendasikan dilakukan setiap 5 sampai 7 tahun sekali. Proses siklus 7 tahunan tersebut juga dapat diinterpretasikan pada manajemen tanaman perkebunan. Sebagai contoh, untuk sawit sebagai tanaman perkebunan penyumbang devisa ekspor terbesar di Indonesia dan Malaysia, siklus ini nyata sekali mengikuti tahapan-tahapan pada fungsi produksi Klasik. Tujuh tahun pertama adalah masa pembesaran tanaman. Tujuh tahun berikutnya adalah periode tanaman memberikan hasil dan kemudian mencapai puncak produktivitasnya. Tujuh tahun terakhir adalah saat tanaman mulai menurun produktivitasnya dan kemudian mencapai umur ekonomis maksimum.

 

Pengelolaan cadangan pangan memang tidak mudah. Untuk Indonesia, masalah yang dihadapi bukan cuma antar waktu karena produksi yang bersifat musiman. Juga antar wilayah karena keberagaman komoditas yang diusahakan sesuai keunggulan lokal. Pada ayat 58 dan 59 Surah Yusuf digambarkan dengan adanya pembangunan ketahanan pangan yang baik, Mesir dapat membantu negara-negara lain yang kekurangan pangan saat itu. Kita masih lemah sekali dalam perencanaan produksi,  baik di tingkat  petani apalagi wilayah. Bila dapat dilakukan secara akurat, katakanlah untuk setiap daerah dapat dipetakan berapa produksi dan berapa permintaan yang harus dipenuhi, maka kejadian gejolak harga bisa diminimumkan. Bahkan kita menjadi negara pengeskpor pangan, bukan sebaliknya.

 

Untuk teknologi penyimpanan, setidaknya sebagian sudah tersedia dan dikuasai. Sebagai contoh beberapa kajian PKHT IPB dan Litbang Kemtan, untuk penanganan bawang mrah sudah tersedia teknologi apakah dengan penanganan pasca panen yang minimum; teknologi pendingin atau pengeringan. Komitmen berbagai pihak untuk mendukung implementasinya sangat diperlukan. Contoh lain untuk beras, riset penyimpanan yang terbaik dalam bentuk apa, apakah beras atau gabah juga sudah dilakukan. Seperti yang tersirat di ayat 47 tadi, hasil riset kami 15 tahun yang lalu menunjukkan penyimpanan dalam bentuk gabah lebih efisien dan ekonomis. Susut berat atau risiko hama gudang lebih ringan. Namun penyimpanan harus dilakukan berkelompok tidak bisa oleh individu petani. Untuk itu Pemerinatah atau Pemda memang harus turun tangan. Upaya seperti lumbung desa yang dulu pernah ada perlu kembali dihidupkan oleh Negara. Manajemen keuangan seperti resi gudang yang sudah mulai diimplementasikan perlu dikaji secara lebih mendalam, dan tentu harus menghindari riba dalam implementasinya.

 

Penataan Kelembagaan Pangan

 

Program pemasaran Kementerian Pertanian Amerika Serikat mempunyai misi mengurangi gap antara harga pangan di tingkat petani dengan harga di tingkat konsumen. Artinya dalam sasaran program Pemerintah seyogyanya bukan bagaimana menciptakan harga yang rendah di tingkat konsumen atau harga yang tinggi di tingkat petani. Namun proses pembentukan harga yang efisien, yang dipercaya hasil dari mekanisme pasar, hendaknya yang menjadi tujuan. Tidak jauh berbeda dengan manajemen harga yang dlakukan saat Umar Bin Khattab memimpin Khalifah Islamiyah. Sahabat dilarang melakukan distorsi harga pasar. Namun efisiensi pasar dijaga, semisal dengan melarang keras pelemahan posisi tawar petani kecil yang membawa barangnya ke pasar. Namun Pemerintah tetap memberikan dukungan dalam bentuk bantuan langsung pangan kepada fakir miskin.

 

Saat ketersediaan produk di dalam negeri berkurang, kemudian pasar memberikan sinyal kenaikan harga, saat itulah petani di dalam negeri berhak memperoleh bagian yang lebih besar dari biasanya, hasil dari transmisi kenaikan harga di pasar. Demikian sebaliknya. Makanya untuk mengurangi risiko tersebut, petani di negara maju dianjurkan membuat kontrak penjualan dengan manufaktur, distributor atau pengecer. Di beberapa tempat kontrak antara petani cabe di Ciamis dengan industri saus, atau petani di Garut dengan Carefour merupakan sebagian contoh sukses. Resi gudang juga merupakan solusi yang baik, yang saat ini di Indonesia sedang dievaluasi hasil uji coba pelaksanaannya di daerah.

 

Pemikiran di atas berimplikasi masukan pada beberapa kebijakan yang saat ini sedang dilaksanakan Pemerintah. Sebagai contoh, kebijakan referensi harga sebagai patokan Pemerintah untuk membuka keran impor cabe atau bawang merah hendaknya selalu diperbaharui  secara berkala. Besarannya harus mempertimbangkan kompensasi terhadap harga yang sangat rendah yang sering diterima petani pada saat sedang panen raya, karena sifat produksi yang musiman.

 

Kedua, kontrol terhadap harga pasar saat ini hendaknya ada di bawah kendali Kementerian Perdagangan, atau Bulog. Ke depan, secara konsep sudah sangat jelas ada di UU Pangan 18/2012, bahwa pengelolaan cadangan pangan ada di bawah Lembaga yang berada di bawah Presiden. Tinggal menjalankannya saja. Bulog dengan posisi seperti saat ini selalu serba salah. Harus berfungsi seperti lembaga sosial, namun  juga harus mencari untung karena sebagai BUMN. Fungsi koordinasi sebagaimana yang tersirat dari UU Pangan pun juga tidak mungkin dilakukan.

 

Kementerian Pertanian (Kemtan) harus fokus pada peningkatan produktivitas/dayasaing, yang sesungguhnya kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Bila di setiap unit komoditas di Kemtan terdapat Direktorat Pemasaran dan Pengolahan, tupoksinya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi tataniaga, apakah melalui penguatan kelembagaan rantai pasok atau perbaikan sistem informasi pasar. Sehingga yang harus dijaga adalah perubahan harga di pasar harus ditransmisi sebaik mungkin ke produsen. Pada saat harga di pasar naik, petani akan menikmati kenaikannya, demikian pula sebaliknya.

 

Untuk program pemasaran, tidak perlu dilakukan tindakan-tindakan secara langsung seperti penjualan ke pasar konsumen. Akan habis energi sehingga tupoksi utamanya terabaikan. Untuk program pengolahan, tupoksinya harus diarahkan kepada penanganan pasca panen dan pengolahan minimum. Kehilangan hasil setelah panen masih merupakan masalah besar yang belum terpecahkan. Mulai dari teknik panen yang belum sesuai anjuran; minimnya teknologi pengepakan dan pengemasan serta buruknya penanganan saat pengangkutan produk. Pekerjaan rumah yang banyak ini yang harus jadi perhatian utama. Sekali lagi, Kemtan tidak harus “kebakaran jenggot” saat harga melambung tinggi di tingkat konsumen, atau terjun bebas di tingkat petani; selagi peningkatan pasokan dan produktivitas petani di daalam negeri sudah maksimum diupayakan.

 

Kebrhasilan Yusuf as dengan Smart Leadership

 

Kembali kepada kisah Yusuf as di atas,. Keberhasilannya yang diceritakan pada ayat 58 dan 59 tidak terlepas dari dukungan kecerdasan dalam manajemen ketahanan pangannya. Pada ayat 55 diceritakan  Yusuf memperoleh amanah sebagai bendaharawan negara, karena dua faktor: pandai dalam menjaga dan berpengetahuan. Hal ini mengisyaratkan seorang pemimpin untuk bisa berhasil harus amanah, mengutamakan kepentingan Bangsa di atas kepentingan kelompok atau sendiri. Tidak cukup dengan amanah, memiliki pengetahuan yang cukup sehinga bisa menyelesaikan persoalan secara komprehensif menjadi syarat kedua. Ini dapat berarti, untuk posisi tertentu, seperti pimpinan Kementerian atau Lembaga Negara tertentu hendaknya direkrut dari kalangan profesional.

 

Masalah yang sama memang seyogyanya tidak harus berulang. Semua pihak harus secara cerdas mensikapinya. Tidak dengan “panik” apalagi retorika. Upaya mengintegrasikan  perencanaan produksi, penyimpanan dan pemasaran produk pertanian harusnya bisa lebih baik dengan ketersediaan berbagai teknologi saat ini.

 

 

 

 

 

 

No Responses to “Manajemen Ketahanan Pangan”

 

Leave a Reply