Prof Muhammad Firdaus

mencari dan memberi yang terbaik

 

Membaca Sebelum ke Kelas

 

M. Firdaus
Dept. Ilmu Ekonomi FEM-IPB
Menuntut pendidikan di Perguruan Tinggi (PT) adalah keniscayaan di negara maju. Negara sedang berkembang seperti Indonesia meskipun secara rerata tingkat pendidikan nasionalnya baru kelas 2 menuju 3 SMP, namun dengan populasi lebih dari 250 juta, secara jumlah penduduk yang duduk di PT juga relatif sangat besar. Satu setengah total penduduk Singapura.

Salah satu perbedaan mendasar pendidikan menengah dan tinggi adalah dalam pencapaian kompetensi logika berfikir. Lulusan PT diharapkan setidaknya berakhlak mulia yang kritis, kreatif dan inovatif serta mandiri. Untuk itu proses pembelajaran di PT tidak dapat disamakan dengan pendidikan dasar dan menengah.

Merton (1942) menyebutkan salah satu karakter masyarakat lmiah adalah organized scepticism. Artinya seseorang tidak boleh menerima begitu saja pengetahuan baru. Harus ada daya kritis, nalar namun tujuannya bukan untuk menyerang atau melemahkan individu.

Di PT yang bekualitas, koleksi perpustakaan harus lengkap bahkan jam buka sampai malam hari. Dengan teknologi informasi seperti saat ini, fasilitas wifi dan langganan jurnal ilmiah yang cukup mahal juga sudah menjadi keharusan. Menjadi daya tarik apalagi bagi mahasiswa program Pasca Sarjana.

Meksipun sekarang e-book banyak tersedia, namun akses mahasiswa dan dosen di Indonesia relatif masih terbatas. Selain memang harga beli yang masih relatif mahal, budaya menggunakan Ipad belum terlalu baik, tidak mewabah seperti penggunaan smartphone untuk media sosial seperti Instagram, twitter dan FB.

Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tadi, membaca buku teks yang sudah lazim digunakan untuk mata kuliah tertentu harus senantiasa didorong, bahkan dipaksakan. Program studi yang terakreditasi A sudah hampir dipastikan mempunyai silabi mata kuliah yang sudah mencatatkan berbagai referensi utama dan muktahir. Tentunya hal ini harus diimplementasikan dan dievaluasi dalam setiap pertemuan, bukan hanya menjadi dokumen untuk penilaian.

Saya belajar dari seorang guru, jangankan mahasiswa, seorang dosen yang sudah berpuluh tahun mengajar masih harus membaca buku teks saat akan masuk ke kelas. Apalagi secara berkala buku-buku senantiasa diperbaharui dengan berbagai hasil riset terbaru. 20 tahun yang silam persis saat saya baru menjadi dosen tetap, di salah satu Pusat Penelitian saya memperhatikan senior yang tekun, selalu meluangkan waktu untuk membaca buku teks meskipun waktu pensiunnya sudah beberapan tahun kemudian menjelang.

Untuk dosen ekonomi misalnya, saat akan masuk ke kelas makroekonomi, sudahkah menekuni kembali Mankiw, Dornbush, Romers atau yang lainnya? Atau saat akan datang ke kelas ekonometrika, apakah sudah menyapa Gujarati, Thomas, Hendry atau Verbeek? Meskipun sudah berbelas atau puluh tahun namun membaca kembali teks asli buku memberikan sensasi yang berbeda. Karena ada pengalaman baru yang memunculkan tambahan pemahaman yang bisa menjadi menarik untuk diilustrasikan di kelas.

Semoga membaca referensi dari buku teks, bagi kita yang mengajar, bagi mahasiswa yang sedang belajar manjadi budaya seperti kita memperbaharui status secara berkala di media sosial. Amin.

 

No Responses to “Membaca Sebelum ke Kelas”

 

Leave a Reply