Prof Muhammad Firdaus

mencari dan memberi yang terbaik

 

UU Pangan akan Ditindaklanjuti

 
http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/12/12/nz8kqo1-review-transpacific-partnership
Jumat, 23 Mei 2014, 10:05 WIB
JAKARTA — Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan, akan menindaklanjuti Undang-Undang (UU) Pangan. UU Nomor 18 Tahun 2012 tersebut mengatur tentang kedaulatan pangan.

Chairul mengatakan, ia baru mendengar update tentang UU pangan kemarin. Ia masih akan mempelajari detail dari UU tersebut.

Namun, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk membuat turunan UU tersebut. “Tentu, setelah UU ada PP lalu perlu ada Kepmen,” ujar Chairul, Selasa (20/5) petang. Menurut dia, masukan dari gubernur-gubernur juga penting untuk memahami apa yang tengah terjadi saat ini.

Ia mengatakan, akan bekerja keras untuk membahas UU Pangan tersebut. Tapi, ia tidak dapat menjanjikan peraturan turunan UU tersebut akan selesai minggu ini. “Dalam minggu ini, saya belum bisa menjanjikan. Saya akan bekerja keras. Akan maksimalkan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Chairul juga mengatakan, inflasi di Indonesia biasanya merangkak naik menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Ia mengemukakan, terdapat tiga cara untuk mengendalikan inflasi menjelang Lebaran.

Pria yang akrab disapa CT tersebut mengatakan, hal pertama yang penting untuk mengendalikan inflasi adalah terpenuhinya stok. “Untuk pengendalian inflasi menjelang Lebaran, yang penting adalah terpenuhinya jumlah stok yang cukup untuk kebutuhan Ramadhan dan Lebaran,” ujarnya.

Hal kedua yang harus dipastikan adalah distribusi yang memadai. “Ada daerah-daerah tertentu tak merata sesuai kebutuhannya,” ujarnya.

Hal ketiga adalah memastikan tidak adanya penimbunan dan supply chain yang tak sesuai dengan mekanisme pasar yang ada. “Jadi, pedagang yang mengambil keuntungan di sela kesempitan seseorang tidak boleh ada,” ujarnya.

Ia akan memastikan ketiga hal tersebut akan diterapkan dengan baik agar inflasi lebih baik dari tahun sebelumnya. Inflasi pada triwulan I-2014 mencapai 7,25 persen. Sementara itu, inflasi 2013 mencapai 8,3 persen.

Terburuk
Dalam kesempatan terpisah, guru besar Ilmu Ekonomi IPB Muhammad Firdaus mengatakan, ketimpangan pangan di Indonesia terburuk di dunia. Banyak daerah sentra pertanian produksi pertanian kurang berkembang.

Menurut Firdaus, banyak tantangan pembangunan pertanian untuk presiden Indonesia 2014-2019. “Jika capres ingin Indonesia maju, capres harus perhatikan pertanian,” ujar Firdaus di Bogor, Rabu (21/5).

Ia menegaskan, ada tiga undang-undang yang menjadi tantangan Presiden selanjutnya. UU no 13/2010 tentang Holtikultura; UU No 18/2012 tentang pangan dan UU no 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang harus sudah dilaksanakan pada 2014 dan 2015.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Tedy Dirhamsyah mengatakan, pemerintahan yang akan datang diharapkan membawa kesejahteraan bagi sektor pertanian. “Setelah kepemimpinan mantan presiden Soeharto, deretan pemimpin sesudahnya belum menangani pertanian dengan serius,” ujarnya pada diskusi bertema “Mencari Pemimpin Pro Petani” di Universitas Tirtayasa, Banten, Rabu (21/5).

Direktur Utama Perum Bulog Surtarto Alimoeso mengatakan bahwa pertanian tidak seharusnya dipolitisasi. Tapi, setelah reformasi, pertanian justru dilibatkan dalam politik. “Padahal, ketika mendekati masa reformasi, pertanian bukan sektor andalan,” kata Sutarto dalam diskusi yang sama.

Kondisi sektor pertanian, menurut Sutarto, terus berubah mengikuti iklim politik yang ada. Pertanian pernah mengalami era paling maju, meskipun sekarang terlihat sepertinya potensi makin turun. N c74 ed: irwan kelana

 

PR Pertanian untuk Presiden Baru

 

Muhammad Firdaus  ;   Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB

MEDIA INDONESIA, 04 April 2014

TIDAK banyak negara besar di dunia yang masih menggantungkan ekonominya pada pertanian. Sebagian besar pemain utama dalam perdagangan pertanian dunia, seperti AS, Tiongkok, dan India, kontribusi pertanian mereka terhadap total nilai ekspor sudah di bawah 10%. Kecuali Brasil dan Argentina. Pangsa pertanian kedua negara itu masih sangat tinggi. Adapun nilai ekspor pertanian Indonesia (di luar hasil hutan kayu dan nonkayu) pada 2013 mencapai Rp415 triliun, yang berarti 20% dari total nilai ekspor Indonesia. Dengan nilai produk pertanian yang diimpor Rp157 triliun, berarti dari sektor pertanian masih bisa ditabung sejumlah besar devisa; saat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit hampir Rp50 triliu sepanjang 2013.

Komisi Uni Eropa saat ini masih mencatat Indonesia sebagai salah satu dari delapan negara terbesar di dunia termasuk EU-27, dari indikator nilai perdagangan luar negeri produk pertanian. Sampai sekarang pun Indonesia masih diakui sebagai penghasil nomor satu dunia untuk beberapa komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, cengkih, panili, kulit manis; nomor dua untuk kelapa, karet, dan cokelat; serta masih menempati peringkat minimal empat teratas untuk lada, kopi, dan berbagai jenis tanaman biofarmaka (EU Commission report dan Wikipedia). Beberapa negara seperti Vietnam dan Tiongkok belakangan muncul sebagai pengekspor terbesar beberapa komoditas pertanian di pasar dunia, sebagai salah satu dampak membuka diri terhadap perdagangan global sejak awal 1990-an.

Masalah utama

Sensus BPS 2013 melaporkan sekitar 26 juta lebih rumah tangga berusaha di sektor pertanian. Artinya, ada lebih dari 100 juta orang menggantungkan hidup langsung dari komoditas pertanian–jumlah yang harus menjadi konsideran utama dalam membuat program pembangunan, siapa pun yang akan memimpin Indonesia. Separuh lebih dari rumah tangga pertanian tersebut menguasai lahan kurang dari setengah hektare; dengan luas lahan yang digarap setiap petani Indonesia saat ini tidak sampai sepertiga dari rata-rata penguasaan lahan petani di dunia.

Petani dengan penguasaan lahan kecil biasanya bersifat risk-averter atau tidak berani mengambil risiko, memiliki keterbatasan akses pembiayaan dan pasar, relaktan terhadap perkumpulan atau organisasi, serta tidak memiliki perencanaan produksi dengan jangka waktu lebih dari sebulan. Akibatnya, tidak mudah untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah pertanian Indonesia. Ditambah dengan lemahnya infrastruktur penunjang seperti masih buruknya jaring an irigasi, jalan perde saan, bahkan industri penghasil agriculture tools yang penting dalam upaya modernisasi pertanian.

Persoalan lain yang dihadapi ialah rendahnya nilai tambah per kapita petani Indonesia, yang setara dengan Thailand, tapi masih sepersepuluh Malaysia. Contoh yang sangat baik dalam implementasi strategi hilirisasi ialah Brasil. Saat ini Brasil mengekspor sejumlah besar etanol dengan bahan baku tebu ke AS. Sebaliknya Brasil juga mengimpor etanol berbasis jagung dari AS. Nilai ekspor etanol yang masih tiga kali dari nilai impornya menghasilkan surplus perdagangan yang besar dengan AS.

Untuk Indonesia yang mayoritas kelapa sawitnya diekspor dalam bentuk pengolahan minimal, sudah adagoodwill untuk pengembangan kawasan industri di Maloy, Kaltim atau Sei Mangke, Sumut. Dukungan pembangunan infrastruktur dari pemerintah diperlukan segera sehingga swasta mau masuk.

Kemandirian pangan

Kemandirian dan kedaulatan pangan merupakan dua isu yang mulai mengemuka sejak disahkannya UU Pangan 2012. Dari sisi kemandirian pangan, bila mengacu pada statistik Bank Dunia, Indonesia sebenarnya relatif lebih baik jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain dari sisi ketergantungan terhadap impor pangan pokok utama (cereal). Rata-rata seluruh negara di dunia mengimpor 15% makanan pokoknya. Dari angka yang dipublikasikan, Indonesia mengimpor sekitar 10%, yang hampir sama dengan kondisi Thailand, tetapi jauh lebih baik dari Malaysia bahkan Filipina. Memang India, Tiongkok, dan Argentina merupakan contoh negara yang paling rendah memasok pangan pokok utama dari luar negeri. Namun, negara pertanian lain di belahan Amerika Latin memiliki ketergantungan rata-rata sekitar tiga kali Indonesia.

Sering diperbincangkan di media untuk beberapa komoditas seperti jagung dan kedelai, dua komoditas yang memiliki nilai impor pangan tertinggi setelah gandum, Indonesia harusnya mempunyai peluang untuk memasok lebih banyak dari dalam negeri. Memang potensi peningkatan produktivitas keduanya masih terbuka, baik untuk di Jawa khususnya melalui penggunaan benih-benih unggul temuan baru para pakar maupun optimalisasi pemanfaatan lahan kering dan marginal di luar Jawa.

Namun, harus disadari di luar negeri, terutama di Amerika Latin termasuk Filipina, produsen jagung dan kedelai menggunakan varietas transgenik (GMO) yang sampai saat ini belum mendapat ratifikasi dari Kementerian Pertanian.

Pernah penulis bersama Monshanto mengkaji secara komprehensif kemungkinan penggunaannya di Indonesia, sampai pada kesimpulan; memang belum ada kajian pasti tentang dampak buruk terhadap kesehatan. Namun, pertimbangan kehati-kehatian terhadap kemungkinan dampak negatifnya terhadap keseimbangan ekologi menjadi alasan utama sikap pengambil kebijakan, sehingga saat ini upaya menggeser ke penggunaan benih hibrida masih menjadi fokus utama. Ini contoh kecil kedaulatan pangan yang harus dipertahankan.

Isu lain yang sering berkembang di masyarakat ialah tentang maraknya impor hortikultura. Karena dikonsumsi langsung oleh konsumen sehingga di-display di sepanjang jalan dan pasar modern, impor produk hortikultura terkesan merepresentasikan kegagalan dalam mewujudkan kemandirian pangan Indonesia.

Padahal nilai total impor sayur dan buah Indonesia 2013 sebenarnya sekitar seperdelapan total impor produk pertanian. Selain itu, dari sayur dan buah yang dikonsumsi, diestimasi sekitar 25%-30% total volume yang dipasok dari impor.

Memang pemanfaatan lahan oleh petani hortikultura masih belum optimal. Produktivitas masih bisa dinaikkan secara signifikan. Diperkirakan, belum sampai 50% petani yang menerapkan standar baku budi daya (SOP). Selain itu, kepastian harga saat petani panen menjadi harapan yang belum sepenuhnya terpenuhi. Terutama saat pemerintah membuka keran impor manakala harga produk melewati batas referensinya. Padahal UU No 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani me negaskan bahwa pemerintah harus menjamin pasar bagi produk yang dihasilkan petani.

PR presiden

Peluang penerapan tarif tertinggi (bound-tariff) serta pemanfaatan waktu genjatan senjata (peace-clause) selama 4 tahun ke depan sebagai hasil konferensi WTO di Bali tahun lalu merupakan contoh kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia untuk meningkatkan kemandirian pangan, khususnya untuk hortikultura yang bisa didorong kinerjanya dalam waktu relatif lebih cepat.

Keberanian DPR menetapkan batas maksimum produksi benih dari perusahaan asing sebesar 30% dengan UU Hortikultura 2010 merupakan contoh lain kedaulatan pangan yang sedang menunggu keberanian pemerintah untuk mengimplementasikannya.

Kelompok komoditas lain yang mendominasi impor pertanian Indonesia ialah peternakan. Saat ini lebih dari 90% susu yang diolah perusahaan (multinasional) di dalam negeri bahan bakunya diimpor. Peningkatan impor memang signifikan terjadi sejak mulai turunnya tarif pada awal 1980-an.

Dalam membahas kondisi pangan nasional, sebenarnya apa saja dan berapa banyak kita harus mengimpor? Komoditas mana saja yang sebenarnya harus diperjuangkan baik di dalam negeri maupun pada forum global seperti WTO? Secara umum kriteria sudah banyak dirumuskan para ahli (Sawit; Simatupang; FAO), seperti indikator tingkat konsumsi domestik, penyerapan tenaga kerja dan kontribusi untuk pembangunan perdesaan. Dari naskah akademik yang disusun Fakultas Ekonomi dan Manajamen IPB untuk persiapan negosiasi Indonesia dalam MC-9 WTO di Bali lalu, setidaknya teridentifikasi lima komoditas yang dianggap paling strategis, yaitu beras, jagung, kedelai, gula, dan sapi.

Di luar lima komoditas tersebut, banyak produk pertanian yang saat ini konsumsi nasionalnya masih separuh atau kurang dari yang dianjurkan FAO, seperti susu dan produk peternakan lainnya, sayur serta buah.

Ke depan koordinasi lintas lembaga serta lintas pusat-daerah sangat diperlukan. Beban tersebut harus dipikul bersama. Dengan kekuatan perguruan tinggi, kementerian, LSM, dan pengusaha, diperlukan tangan yang kuat dan bijak dari seorang presiden untuk mengatasi persoalan klasik di negeri ini; koordinasi.

Keberpihakan penganggaran untuk sektor pertanian dan perdesaan juga tentunya bukan sekadar wacana.

 

Dynamic Analysis of Regional Convergence in Indonesia

 

Int. Journal of Economics and Management

 

ABSTRACT
This study examines income convergence among provinces in Indonesia using dynamic panel data approach. The results show that static and dynamic panel data approaches produce different results of convergence patterns. Consistent with the theory, the Ordinary Least Square (OLS) and fixed-effects estimators provide the upper and lower bounds. The first-differences generalized method of moments (FD-GMM) provides invalid estimators which are lower than the coefficient from the fixed effects estimators due to the weak instruments problem. The system-GMM (SYS-GMM) estimators are found to be unbiased, consistent and valid. They show that convergence process prevails among provinces in Indonesia for the period 1983 – 2003. However the speed of convergence is relatively very slow (0.29) compared to other studies in developing countries.
Keywords: Dynamic Panel Data, Income Convergence and Indonesia.
Full PDF below
 

Feasibility Analyses of Integrated Broiler Production

 
ABSTRACT
The major obstacles in the development of broiler raising is the expensive price of feed and the fluctuative price of DOCs. The cheap price of imported leg quarters reduces the competitiveness of the local broilers. Therefore, an eff ort to increase production effi ciency is needed through integration between broiler raising and corn farmers and feed producers (integrated farming). The purpose of this study is to analyze the feasibility of integrating broiler raising with corn cultivation and feed production. Besides that, a simulation was conducted to analyze the effects of DOC price changes, broiler price and production capacity. The analyses showed that integrated farming and a mere combination between broiler raising and feed factory of a 10,000 bird capacity is not financially feasible. Increasing the production to 25,000 broiler chickens will make the integrated farming financially feasible. Unintegrated broiler raising is relatively sensitive to broiler price decreases and DOC price increases compared to integrated farming.
Key words: broilers, financial feasibility, integrated farming
Full PDF below
 

THE GLOBAL ECONOMIC CRISIS AND ITS EFFECT ON INDONESIAN AGRIBUSIN ESS EXPORTS?

 
AFBE Journal
ABSTRACT
The global economic crisis which started from during 2008 was expected to lower the  global demand for agricultural products. Data from the Central Statistical Agency, Indonesia, shows that there was a significant decrease in the export value of non-oil and gas products from 2008 to 2010; and a significant increase from 2009 to 2010. Export values of some main exported products such as vegetable and animal oil, rubber, wood, coffee, tea and pepper decreased in almost all destination countries. The panel data method was applied in analyzing the determinants and impacts of the global economic crisis on some of the Indonesian major agricultural exports. This study found that the global economic crisis significantly depressed the commodityprice. The volume of some main agricultural exports increased from 2008 to 2009; however, a large drop in commodity price reduced the export value. The panel data
model found that the main determinant of Indonesian exports of CPO, rubber and coffee was the export price. The coefficient of economic distance was negative and statistically significant.
Keywords: economic crisis, agriculture, export demand, panel data model.
Full PDF Here
 

INTEGRATION AMONG REGIONAL VEGETABLE MARKETS IN INDONESIA

 

Journal ISSAAS

ABSTRACT
Horticulture played an important role in the Indonesian economy. Its share of GDP, which
was dominated by vegetables and fruits, tended to increase since 2003 up to 2008. However Indonesian
per capita consumption of vegetables was still under FAO recommendation. The study of price integration
among regions is important in order to increase the marketing efficiency of vegetables in Indonesia. Government intervention is needed both at the producer and consumer level, especially in determining the efficient prices. The success of this intervention depends heavily on government’s understanding of price transmission in the fruits market. This research measured the integration level of regional vegetables markets in Indonesia. Engle-Granger test showed that all vegetable prices at PIKJ integrated with producer’s prices, except red chili price. Ravallion model showed that integration did not exist for all commodities. However, there was no significant difference of the market integration performance between the highest and the lowest production area.
Key words: spatial integration, Ravallion model, cointegration
Full PDF here
 

The Dynamics of Regional Disparity in Java Island After Fiscal Decentralization

 
International Journal of Economics and Management
Abstract
Income disparity does not only exist beween Java Island and out of
Java. Some figures indicate that the disparity among regions in Java
Island is significant. This study aimed to analyze the dynamics of
disparity in economic development among regions in Java Island
after the decentralization policy. The study employs the data of 105
districts/cities from 2001 up to 2009. Both dynamic and static panel
data are employed to satisfy the objectives of the study. The results
show that the disparity of regional income among districts/cities
is still high in Java Island, while the disparity is dominated by the
income inequality among the cities. The model shows that regional
GDP convergence does not matter in Java Island, however household
income convergence is very high. The significant determinants of
disparity among regions in Java Island are share of manufacture, level
of labor education, health infrastructure, power and water supply
.
Keywords: Income disparity, dynamic panel data, Williamson coefficient, Java Island

Full PDF below

http://econ.upm.edu.my/ijem/vol6no1/bab09.pdf

 

Keluarga Sanggah Penyebab Hepatitis A

 
Selasa, 15 Desember 2015, 11:00 WIB

BOGOR – Keluarga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terjangkit hepatitis A menyanggah pencapat bahwa pemicu penyakit ini karena masalah kebersihan. Rina Rahmayati menyatakan, putranya, Agung Suharyana (19 tahun), selalu menjaga kebersihan lingkungan kost-nya.

Ibu dua anak yang berdomisili di Kuningan, Jawa Barat, itu bercerita, sebelum merasa kurang sehat, putra sulungnya itu mengikuti kegiatan kampus di Purwokerto selama tiga hari. Ia menduga Agung kelelahan sehingga daya tahan tubuhnya menurun dan virus mudah masuk.

Menurut Rina, selama ini Agung selalu makan teratur dan menjaga kebersihan sekitar kost. Rina juga secara berkala memonitor tempat putranya yang berstatus sebagai penerima beasiswa Bidikmisi itu makan atau beraktivitas.

“Mungkin karena sedang musimnya saja, Neng. Saya dengar mahasiswa IPB lainnya juga banyak yang kena,” tutur Rina yang menunggui putranya di rumah sakit, Senin (14/12). Agung merupakan mahasiswa semester tiga Jurusan Ilmu Ekonomi. Sejak Kamis (10/12), dia diopname di RS Karya Bhakti Pratiwi, Bogor.

Menurut Rina, kemarin, kondisi putranya sudah mulai membaik. Sejak Ahad (13/12), nafsu makannya sudah bagus. Ia menuturkan, Agung merasa tak enak badan sejak Senin pekan lalu. Agung merasa meriang dan mual-mual saat mengikuti perkuliahan di kampus.

Keesokan harinya, pemuda yang tinggal dikost di wilayah Babakan Raya itu segera memeriksakan diri ke Poliklinik IPB. Tim medis poliklinik lantas merujuk Agung untuk tes hepatitis A atau radang hati dan hasilnya positif. Pada Kamis, Agung langsung diopname di Klinik dr Kartili. Menurut Rina, Agung baru dipindah ke RS Karya Bhakti Pratiwi sejak Sabtu pekan lalu.

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Muhammad Firdaus menyoroti kondisi ekonomi para mahasiswa terkait merebaknya hepatitis A di IPB. Menurut dia, sebagian mahasiswa IPB merupakan penerima beasiswa Bidikmisi. Mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah dan banyak mengontrak rumah di tempat berharga murah yang kondisinya tidak cukup bersih.

Mahasiswa pengidap hepatitis A lainnya, Satya Adi Purnama (19), juga tak bisa mengira-ngira penyebab penyakit yang ia derita. Mahasiswa semester tiga Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan IPB itu mengaku selalu menjaga kebersihan makanan yang ia konsumsi.

Mahasiswa yang juga penerima Bidikmisi itu berkata, ia makan cukup sebanyak dua atau tiga kali sehari. Ia lebih sering makan di daerah kampus daripada di wilayah kost-nya di Babakan Lio. “Kost-kostan juga tidak kotor, airnya selalu bersih. Selama ini tidak ada masalah.”

Pemuda asal Padang, Sumatra Barat, tersebut, dirawat di RS Karya Bhakti Pratiwi sejak Kamis (10/12). Setelah lima hari, kondisinya mulai membaik. Ia berujar, hari ini atau lusa sudah diperbolehkan pulang apabila dokter menyatakan hasil cek darahnya bagus.

Satya juga tidak lagi mengalami demam dan gejala lain yang mulanya ia alami. “Awalnya dikira demam biasa, tetapi setelah istirahat tidak hilang-hilang, tapi sekarang sudah mendingan,” kata Satya yang dijaga bergantian oleh kakak dan teman-temannya itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2PKL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dr Kusnadi mengatakan, pihaknya telah melakukan penyelidikan epidemiologis untuk mengetahui akar masalah hepatitis A di IPB dan memutus rantai penularan.

Faktor kebersihan lingkungan yang ditengarai sebagai penyebab, jelas Kusnadi, harus diketahui secara pasti dan bukan sekadar menduga-duga. ”Kami belum bisa menyebutkan apakah penyebab ada di dalam atau luar kampus,” katanya.

Ia menyebutkan, masa inkubasi penyakit yang menular secara fecal-oral itu berlangsung selama 15-50 hari. Investigasi sampel cukup sulit dilakukan karena ribuan mahasiswa IPB makan dan tinggal di lokasi yang berbeda-beda.

Kemarin, Direktur Kemahasiswaan IPB Sugeng Santoso menyatakan, terdapat 13 orang mahasiswa pengidap hepatitis A yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sebanyak 12 orang di Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi dan satu orang di RS Medika Dramaga.

Pada Kamis lalu, sekitar 28 mahasiswa IPB dirawat karena penyakit radang hati tersebut. Menurut dia, tim kelompok kerja IPB bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor masih menyelidiki kondisi para mahasiswa lain yang berstatus suspect atau terduga hepatitis A.

Dalam pemeriksaan kesehatan massal selama dua hari, yakni Jumat hingga Sabtu lalu, terdeteksi 46 orang suspect hepatitis A dari total 609 mahasiawa IPB yang menjalani pemeriksaan. Para suspect dirujuk ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan fungsi hati.

Selanjutnya, apabila mahasiswa dinyatakan positif hepatitis A, pasien akan menjalani rawat inap. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB Yonny Koesmaryono menjelaskan, IPB memberlakukan pola pengawasan berkala terhadap kebersihan di dalam dan luar kampus untuk mencegah berulangnya kejadian luar biasa hepatitis A.

Penyuluhan kesehatan, kata dia, telah dan akan terus dilakukan kepada mahasiswa secara bertahap. Begitu pula pemeriksaan kesehatan massal untuk mendata dan menyembuhkan mahasiswa dan anggota sivitas pengidap hepatitis.

Dalam waktu dekat, Bidang Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor melakukan kaporisasi di sumur-sumur air, disinfektan asrama, penyelidikan epidemiologis, dan penyuluhan kebersihan makanan serta sanitasi ke pemilik kantin sekitar kampus IPB.  c34 ed: Ferry Kisihandi

 

My CV 2015

 

Picture2

CURRICULUM VITAE

Prof. Dr. Muhammad Firdaus, S.P, M.Si

Email: mfirdaus@ipb.ac.id, firdausfeemipb@yahoo.com
Facebook: Muhammad Firdaus Ipb

Riwayat hidupPPT HLM Jamb edit MF 2015

Lahir : Muara Bungo, 5 Januari
Pendidikan: Lulus SD no 81/2 Muara Bungo, SMP 7 Jambi, SMA N 5 Jambi, S1 & S2 IPB, S3 UPM
Orasi Ilmiah Guru Besar: Tahun 2013

 

Posisi saat ini:

  1. Wakil Dekan FEM IPB bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan
  2. Wakil Ketua Dewan Pengupahan Kab. Bogor
  3. Sekjen ISEI Bogor Raya
  4. Tim Ahli Satgas G-33 WTO
  5. Sekretaris DKM Al-Hurriyah IPB
  6. Wakil Ketua LAZ IPB
  7. Anggota TPR Kemenaker