Prof Muhammad Firdaus

mencari dan memberi yang terbaik

 

Feasibility Analyses of Integrated Broiler Production

 
ABSTRACT
The major obstacles in the development of broiler raising is the expensive price of feed and the fluctuative price of DOCs. The cheap price of imported leg quarters reduces the competitiveness of the local broilers. Therefore, an eff ort to increase production effi ciency is needed through integration between broiler raising and corn farmers and feed producers (integrated farming). The purpose of this study is to analyze the feasibility of integrating broiler raising with corn cultivation and feed production. Besides that, a simulation was conducted to analyze the effects of DOC price changes, broiler price and production capacity. The analyses showed that integrated farming and a mere combination between broiler raising and feed factory of a 10,000 bird capacity is not financially feasible. Increasing the production to 25,000 broiler chickens will make the integrated farming financially feasible. Unintegrated broiler raising is relatively sensitive to broiler price decreases and DOC price increases compared to integrated farming.
Key words: broilers, financial feasibility, integrated farming
Full PDF below
 

THE GLOBAL ECONOMIC CRISIS AND ITS EFFECT ON INDONESIAN AGRIBUSIN ESS EXPORTS?

 
AFBE Journal
ABSTRACT
The global economic crisis which started from during 2008 was expected to lower the  global demand for agricultural products. Data from the Central Statistical Agency, Indonesia, shows that there was a significant decrease in the export value of non-oil and gas products from 2008 to 2010; and a significant increase from 2009 to 2010. Export values of some main exported products such as vegetable and animal oil, rubber, wood, coffee, tea and pepper decreased in almost all destination countries. The panel data method was applied in analyzing the determinants and impacts of the global economic crisis on some of the Indonesian major agricultural exports. This study found that the global economic crisis significantly depressed the commodityprice. The volume of some main agricultural exports increased from 2008 to 2009; however, a large drop in commodity price reduced the export value. The panel data
model found that the main determinant of Indonesian exports of CPO, rubber and coffee was the export price. The coefficient of economic distance was negative and statistically significant.
Keywords: economic crisis, agriculture, export demand, panel data model.
Full PDF Here
 

INTEGRATION AMONG REGIONAL VEGETABLE MARKETS IN INDONESIA

 

Journal ISSAAS

ABSTRACT
Horticulture played an important role in the Indonesian economy. Its share of GDP, which
was dominated by vegetables and fruits, tended to increase since 2003 up to 2008. However Indonesian
per capita consumption of vegetables was still under FAO recommendation. The study of price integration
among regions is important in order to increase the marketing efficiency of vegetables in Indonesia. Government intervention is needed both at the producer and consumer level, especially in determining the efficient prices. The success of this intervention depends heavily on government’s understanding of price transmission in the fruits market. This research measured the integration level of regional vegetables markets in Indonesia. Engle-Granger test showed that all vegetable prices at PIKJ integrated with producer’s prices, except red chili price. Ravallion model showed that integration did not exist for all commodities. However, there was no significant difference of the market integration performance between the highest and the lowest production area.
Key words: spatial integration, Ravallion model, cointegration
Full PDF here
 

The Dynamics of Regional Disparity in Java Island After Fiscal Decentralization

 
International Journal of Economics and Management
Abstract
Income disparity does not only exist beween Java Island and out of
Java. Some figures indicate that the disparity among regions in Java
Island is significant. This study aimed to analyze the dynamics of
disparity in economic development among regions in Java Island
after the decentralization policy. The study employs the data of 105
districts/cities from 2001 up to 2009. Both dynamic and static panel
data are employed to satisfy the objectives of the study. The results
show that the disparity of regional income among districts/cities
is still high in Java Island, while the disparity is dominated by the
income inequality among the cities. The model shows that regional
GDP convergence does not matter in Java Island, however household
income convergence is very high. The significant determinants of
disparity among regions in Java Island are share of manufacture, level
of labor education, health infrastructure, power and water supply
.
Keywords: Income disparity, dynamic panel data, Williamson coefficient, Java Island

Full PDF below

http://econ.upm.edu.my/ijem/vol6no1/bab09.pdf

 

Keluarga Sanggah Penyebab Hepatitis A

 
Selasa, 15 Desember 2015, 11:00 WIB

BOGOR – Keluarga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terjangkit hepatitis A menyanggah pencapat bahwa pemicu penyakit ini karena masalah kebersihan. Rina Rahmayati menyatakan, putranya, Agung Suharyana (19 tahun), selalu menjaga kebersihan lingkungan kost-nya.

Ibu dua anak yang berdomisili di Kuningan, Jawa Barat, itu bercerita, sebelum merasa kurang sehat, putra sulungnya itu mengikuti kegiatan kampus di Purwokerto selama tiga hari. Ia menduga Agung kelelahan sehingga daya tahan tubuhnya menurun dan virus mudah masuk.

Menurut Rina, selama ini Agung selalu makan teratur dan menjaga kebersihan sekitar kost. Rina juga secara berkala memonitor tempat putranya yang berstatus sebagai penerima beasiswa Bidikmisi itu makan atau beraktivitas.

“Mungkin karena sedang musimnya saja, Neng. Saya dengar mahasiswa IPB lainnya juga banyak yang kena,” tutur Rina yang menunggui putranya di rumah sakit, Senin (14/12). Agung merupakan mahasiswa semester tiga Jurusan Ilmu Ekonomi. Sejak Kamis (10/12), dia diopname di RS Karya Bhakti Pratiwi, Bogor.

Menurut Rina, kemarin, kondisi putranya sudah mulai membaik. Sejak Ahad (13/12), nafsu makannya sudah bagus. Ia menuturkan, Agung merasa tak enak badan sejak Senin pekan lalu. Agung merasa meriang dan mual-mual saat mengikuti perkuliahan di kampus.

Keesokan harinya, pemuda yang tinggal dikost di wilayah Babakan Raya itu segera memeriksakan diri ke Poliklinik IPB. Tim medis poliklinik lantas merujuk Agung untuk tes hepatitis A atau radang hati dan hasilnya positif. Pada Kamis, Agung langsung diopname di Klinik dr Kartili. Menurut Rina, Agung baru dipindah ke RS Karya Bhakti Pratiwi sejak Sabtu pekan lalu.

Sebelumnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Muhammad Firdaus menyoroti kondisi ekonomi para mahasiswa terkait merebaknya hepatitis A di IPB. Menurut dia, sebagian mahasiswa IPB merupakan penerima beasiswa Bidikmisi. Mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah dan banyak mengontrak rumah di tempat berharga murah yang kondisinya tidak cukup bersih.

Mahasiswa pengidap hepatitis A lainnya, Satya Adi Purnama (19), juga tak bisa mengira-ngira penyebab penyakit yang ia derita. Mahasiswa semester tiga Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan IPB itu mengaku selalu menjaga kebersihan makanan yang ia konsumsi.

Mahasiswa yang juga penerima Bidikmisi itu berkata, ia makan cukup sebanyak dua atau tiga kali sehari. Ia lebih sering makan di daerah kampus daripada di wilayah kost-nya di Babakan Lio. “Kost-kostan juga tidak kotor, airnya selalu bersih. Selama ini tidak ada masalah.”

Pemuda asal Padang, Sumatra Barat, tersebut, dirawat di RS Karya Bhakti Pratiwi sejak Kamis (10/12). Setelah lima hari, kondisinya mulai membaik. Ia berujar, hari ini atau lusa sudah diperbolehkan pulang apabila dokter menyatakan hasil cek darahnya bagus.

Satya juga tidak lagi mengalami demam dan gejala lain yang mulanya ia alami. “Awalnya dikira demam biasa, tetapi setelah istirahat tidak hilang-hilang, tapi sekarang sudah mendingan,” kata Satya yang dijaga bergantian oleh kakak dan teman-temannya itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2PKL) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dr Kusnadi mengatakan, pihaknya telah melakukan penyelidikan epidemiologis untuk mengetahui akar masalah hepatitis A di IPB dan memutus rantai penularan.

Faktor kebersihan lingkungan yang ditengarai sebagai penyebab, jelas Kusnadi, harus diketahui secara pasti dan bukan sekadar menduga-duga. ”Kami belum bisa menyebutkan apakah penyebab ada di dalam atau luar kampus,” katanya.

Ia menyebutkan, masa inkubasi penyakit yang menular secara fecal-oral itu berlangsung selama 15-50 hari. Investigasi sampel cukup sulit dilakukan karena ribuan mahasiswa IPB makan dan tinggal di lokasi yang berbeda-beda.

Kemarin, Direktur Kemahasiswaan IPB Sugeng Santoso menyatakan, terdapat 13 orang mahasiswa pengidap hepatitis A yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sebanyak 12 orang di Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi dan satu orang di RS Medika Dramaga.

Pada Kamis lalu, sekitar 28 mahasiswa IPB dirawat karena penyakit radang hati tersebut. Menurut dia, tim kelompok kerja IPB bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor masih menyelidiki kondisi para mahasiswa lain yang berstatus suspect atau terduga hepatitis A.

Dalam pemeriksaan kesehatan massal selama dua hari, yakni Jumat hingga Sabtu lalu, terdeteksi 46 orang suspect hepatitis A dari total 609 mahasiawa IPB yang menjalani pemeriksaan. Para suspect dirujuk ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan fungsi hati.

Selanjutnya, apabila mahasiswa dinyatakan positif hepatitis A, pasien akan menjalani rawat inap. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB Yonny Koesmaryono menjelaskan, IPB memberlakukan pola pengawasan berkala terhadap kebersihan di dalam dan luar kampus untuk mencegah berulangnya kejadian luar biasa hepatitis A.

Penyuluhan kesehatan, kata dia, telah dan akan terus dilakukan kepada mahasiswa secara bertahap. Begitu pula pemeriksaan kesehatan massal untuk mendata dan menyembuhkan mahasiswa dan anggota sivitas pengidap hepatitis.

Dalam waktu dekat, Bidang Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor melakukan kaporisasi di sumur-sumur air, disinfektan asrama, penyelidikan epidemiologis, dan penyuluhan kebersihan makanan serta sanitasi ke pemilik kantin sekitar kampus IPB.  c34 ed: Ferry Kisihandi

 

My CV 2015

 

Picture2

CURRICULUM VITAE

CV Muhammad Firdaus 2019 power point

CV-M.-Firdaus-2019-edit

Prof. Dr. Muhammad Firdaus, S.P, M.Si

Email: mfirdaus@ipb.ac.id, firdausfeemipb@yahoo.com
Facebook: Muhammad Firdaus Ipb

Isu Strategis dan Kebijakan Ketahanan  Pangan – Januari 2019.pptx

General Economics – 1st Week.ppt

Proyeksi Ekspor Berdasarkan Industri: Komoditas Unggulan